Apa yang Akan Kamu Sembah Setelahku?

0
737


Oleh: Sofyan Sachuri, Lc., M.Pd

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آَبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhan dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (Qs. Al-Baqarah, 2:133)

Ya, inilah pertanyaan Nabi Ya’qub ‘Alaihis-salam, “Ma ta’buduna min ba’di?” Apakah yang akan kalian sembah sepeninggalku?”, Bukan “Ma ta’kuluna min ba’di? Apakah yang akan kalian makan sesudah aku tiada?”

Lalu seberapa gelisah hati kita hari ini? Apakah kita sibuk memperbanyak tabungan agar kelak anak-anak kita tidak kebingungan mencari makan sesudah kita tiada? Ataukah kita bekali jiwanya dengan tujuan hidup, visi besar, semangat yang menyala-nyala, budaya belajar yang tinggi, iman yang kuat dan kesediaan untuk berbagi karena Allah. Kita hidupkan jiwanya dengan memberi bacaan yang bergizi, nasehat yang menyejukkan hati, dorongan yang memecut semangat, tantangan yang menggugah, dan dukungan pada saat gagal sehingga ia merasa kita perhatikan.

Betul, mendidik dan membentuk anak tidaklah semudah kita membalikan telapak tangan, perlu usaha dan kontrol yang tidak sederhana.

Pada hari ini, ada yang perlu kita renungkan. Lima puluh tahun yang akan datang, di negeri ini kita mungkin menemui pusara bapak-bapak yang hari ini sedang mewarnai anak-anak kita. Mereka terbujur tanpa nisan tanpa prasasti, sementara hidangan di surga telah menanti. Atau sebaliknya, beribu-ribu momen berdiri untuk mengenangnya, sementara tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan. Mereka menjadi berhala yang dikenang dengan perayaan, tapi tak ada doa yang membasahi lisan anak-anaknya. Naudzubilahi min dzalik.

Betapa banyak pelajaran yang bertabur hikmah di sekeliling kita; dari orang-orang yang masih hidup atau mereka yang sudah tiada. Tetapi betapa sedikit yang kita renungkan. Kisah tentang perjuangan KH. Abdul Halim dalam dunia pendidikan dengan intisab dan ishlahu Tsamaniyahnya,  yang jejak-jejaknya bisa kita lihat, berupa sekolah-sekolah dan pondok pesantren bercorak PUI masih bertebaran di kota kita tercinta Majalengka. Tetapi jejak-jejak ruhiyah dan idealisme yang membuat KH Abdul Halim bergerak menata akidah dan delapan perbaikan umat ini, rasanya semakin lama semakin sulit kita lacak. Demikian pula dengan KH. Ahmad Dahlan dan Hadratusy Syaikh Hasim Asyari, sahabat dekat KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Nahdatul Ulama.  

Mari kita renungi sabda Rasulullaah SAW,

عن أبي هريرة أن رسول الله قال:  إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعوا له . رواه مسلم

Dari Abu Hurairah Ra., bahwasannya Rasulallah Saw., bersabda, “Apabila keturunan anak Adam meninggal dunia seluruh amalnya terputus, kecuali dari tiga perkara, shadaqah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat dan anak yang soleh yang senantiasa mendoakannya”. (HR. Muslim)

Ya, Anak yang sholeh yang senantiasa mendoakannya, akan tetapi membentuk anak sholeh tidaklah semudah membalikan telapak tangan, perlu pendidikan dan control yang baik untuk membentuknya. Lalu pertanyaanya apakah kita sudah menyiapkan anak-anak kita agar menjadi anak yang sholeh yang akan mendoakaan kita sepeninggal kita? Mendoakan saja tanpa didasari kesalehan anak kita , doa-doa yang dipanjatkan oleh mereka tidak akan diterima.

Oleh karena itu, marilah kita tundukkan kepala sejenak, seraya kita berdoa memohon keharibaannya agar sepeninggal kita, anak-anak kita masih meyakini tuhan yang kita sembah, Nabi yang kita cintai agama yang kita peluk.

Ya Allah, ampunilah kami yang lebih sering lalai daripada ingat, yang lebih sering zalim daripada adil, yang lebih sering bakhil daripada berbagi karena mengharap ridhaMu. Yang lebih sering jahil dari pada mengilmui setiap tindakan, yang lebih banyak berbuat doasa daripada melakukan kebajikan.

Ya Allah, jangan jadikan kami penghalang kebaikan dan kemuliaan anak-anak kami karena kami tak mengerti mereka. Amin. [Usop]

Dikutip dari berbagai sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here