13.4 C
New York
Wednesday, December 7, 2022

Buy now

PERGURUAN DAARUL ULUUM MAJALENGKA PERSATUAN UMMAT ISLAM (PUI)

Home Blog

Welcome Student Thailand In School MA Daarul Uluum PUI Majalengka

0

Dengan memanjatkan puji dan syukur yang tak terhingga. Alhamdulillah seremoni penyambutan tamu dari Thailand di Madrasah Aliyah (MA) Daarul Uluum PUI Majalengka pada hari Rabu, 14 Maret 2018, berjalan lancar dan meriah. Dengan mengangkat tema “Memperkenalkan kekayaan budaya Sunda dan Indonesia”, penyambutan tamu Thailand diawali dengan penyematan bros batik pada tamu wanita, dan pemberian ikat kepala batik khas Jawa Barat untuk tamu pria.

Dilanjutkan dengan Upacara Adat Sunda sebagai simbolis penerimaan siswa Thailand di Majalengka khususnya dan Jawa Barat umumnya dan pemberian souvenir Wayang Golek. Dan suguhan makan khas jawa barat, Siomay dan Empal Gentong.

Semua kami persiapkan dan persembahkan demi untuk memberikan kesan yang baik, sebagai tanda kesungguhan dan kehangatan kami menyambut para tamu, teman dan partner kami dari Thailand. Semoga kerjasama dan hubungan persaudaraan ini akan berjalan baik ke depannya, pungkas Ima Mardiana Farhah (Wakamad).

Hukum Menggunakan Kateter Saat Shalat

0

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum…ijin bertanya pak ustadz, kl pasien yg sdng dirawat dipasang alat kateter utk bak/bab, bgmn hukumnya bila ia sholat? 🙏🏾🙏🏾(0811118xxx)

JAWABAN

Tindakan medis memasang alat kateter sebenarnya memiliki banyak tujuan sementara seperti tujuan analisis atau diagnosa, observasi, terapi atau tindakan alternatif. Dengan demikian, ragam tujuan ini menegaskan kondisi pasien yang sedang dharurat, dan tindakan ini memiliki alasan syar’i yang cukup kuat dan harus dilakukan oleh dokter sebagai ahli dalam bidang medis.

Allah SWT memberikan prinsip umum dalam beribadah, seperti dalam Surat Al-Baqarah [2] ayat 286 dan Surat At-Taghabun [64] ayat 16:

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

Allah tidak membebani satu jiwa kecuali sesuai kemampuannya.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertaqwalah kalian kepada Allah semampu kalian.

Nabi SAW pernah bersabda sebagaimana riwayat al-Bukhari no. 1117 dari ‘Imran bin Hushain r.a.:

١١١٧ – حَدَّثَنَا عَبۡدَانُ، عَنۡ عَبۡدِ اللهِ، عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ طَهۡمَانَ قَالَ: حَدَّثَنِي الۡحُسَيۡنُ الۡمُكۡتِبُ، عَنِ ابۡنِ بُرَيۡدَةَ، عَنۡ عِمۡرَانَ بۡنِ حُصَيۡنٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: كَانَتۡ بِي بَوَاسِيرُ، فَسَأَلۡتُ النَّبِيَّ ﷺ عَنِ الصَّلَاةِ، فَقَالَ: (صَلِّ قَائِمًا، فَإِنۡ لَمۡ تَسۡتَطِعۡ فَقَاعِدًا، فَإِنۡ لَمۡ تَسۡتَطِعۡ فَعَلَى جَنۡبٍ).

1117. ‘Abdan telah menceritakan kepada kami, dari ‘Abdullah, dari Ibrahim bin Thahman, beliau berkata: Al-Husain Al-Muktib menceritakan kepadaku, dari Ibnu Buraidah, dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Dulu aku terkena penyakit wasir (ambeien). Lalu aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai shalat. Maka beliau bersabda, “Shalatlah dengan berdiri. Jika engkau tidak mampu, maka shalatlah dengan duduk. Jika engkau tidak mampu, maka shalatlah dengan berbaring.”

Dampak dari penggunaan kateter adalah bahwa pasien tidak memiliki otoritas untuk menentukan kapan ia harus berkemih, dikarenakan selang yang langsung masuk ke kandung kemih, dan dengan demikian ia akan selalu membawa najis, baik di selang atau di kantung penampung urinenya. Jika selama ini, urine tersebut ada di dalam kandung kemih, di dalam jasad kita, sekarang berpindah ke tempat sementara yang disambungkan ke jasad kita.

Jika posisi kateter itu dianggap sebagai pengganti kantung kemih dan tidak ada kebocoran setetes pun dalam penggunaannya, hakikatnya ia sedang memindahkan urine dari dalam jasad ke luar jasadnya, namun masih tersambung dengan bagian dalam jasadnya. Hal ini masih bisa dimaknai sebagai kondisi yang tidak berhadats, selama hadats tersebut tidak mengalami kebocoran dari seluruh sambungannya. Meskipun, bisa juga dianggap ia sedang membawa najis karena posisi kantung kateter yang berada di luar jasad.

Namun begitu, jika dalam prosesnya memungkinkan keluarnya urine dari beberapa titik sambungannya, berarti ia sedang dalam kondisi berhadats, dan hadats ini berlangsung terus menerus, maka dapat disamakan dengan kondisi dalam kehidupan nyata yakni seperti seorang wanita yang mengalami istihadhah (keluar darah terus menerus) atau salisil baul (menetes urine terus menerus). Dalam kondisi ini, disebutkan dalam Hasyiyatul Jamal ‘alal Minhaj, juz 1, hlm. 242.:

ويعفى عن قليل سلس البول في الثوب والعصابة بالنسبة لتلك الصلاة خاصة

“…Dan dimaafkan najis yang sedikit pada salisil baul di pakaian atau anggota tubuh, merujuk pada kondisi shalat yang demikian…”

Ibn Qudamah (1147-1223 M) mengatakan:

وكذلك يجوز الجمع للمستحاضة ولمن به سلس البول ومن في معناهما لما روينا من الحديث

Demikian pula dibolehkan bagi wanita mustahadhah, atau orang yang punya penyakit beser dan yang sejenis dengannya untuk melakukan jamak, berdasarkan hadis yang kami bawakan.

Ketika manusia kehilangan kendali dari proses berkemihnya, maka hal maksimal yang bisa dilakukannya adalah bersuci setiap kali akan melakukan shalat fardhu, dan membersihkan semaksimal mungkin najis yang terlihat mata.

Kemudian, jika pemanfaatan sementara dari kateter urine ini dianggap sebagai najis yang tidak dimaafkan, namun karena ia harus tetap melaksanakan shalat, maka shalatnya masuk dalam kategori untuk menghormati waktu (ash-shalah li hurmah al-waqt). Artinya, ia tetap shalat untuk menghormati waktu yang telah masuk, namun disarankan ia tetap mengulanginya kembali saat sudah sembuh. Berkata Imam an-Nawawi dalam _al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab,_ Juz 3 hlm. 136 (Beirut: Dar al-Fikr):

فَإِذَا كَانَ عَلىَ بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ غَيْرُ مَعْفُوٍّ عَنْهَا وَعَجَزَ عَنْ إِزَالَتِهَا وَجَبَ اَنْ يُصَلِّيَ بِحَالِهِ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ

“…Jika di badannya terdapat najis yang tidak dapat dima’fu, dengan kondisi tersebut untuk lihurmat waqti…”

Maka, sebelum shalat, jika dimungkinkan agar dapat mengosongkan kateter dan membersihkan area sekitarnya. Kemudian, berwudhu sesuai kemampuan dan kondisi yang memungkinkan semaksimal mungkin yang dibolehkan. Ia pun boleh menjamak shalatnya sebagaimana pendapat sebagian ulama seperti Ibn Qudamah.

Demikian dalam masalah ini secara ringkas.

Wallahu a’lam,
Dr. Wido Supraha | (Ketua BP Daarul Uluum PUI Majalengka | Wakil Ketua Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI Pusat)


Pertanyaan seputar Aqidah, Ibadah dan Akhlak dapat disampaikan kepada Admin DU: wa.me/6287726541098

Yuk Bersama Berwakaf Masjid Pusaka Putri di bulan Ramadhan ini. Wakaf dapat melalui transfer ke nomor rekening:
 BSI: 7176948277 a.n. Panitia Pembangunan Masjid Pusaka Putri

Bukti transfer bisa dikirim melalui: 087726541098 | https://wa.me/6287726541098
Kami akan kirimkan surat dan lembar kwitansi penerimaannya kepada sahabat.

💢 https://www.instagram.com/daarululuum1911/
🐦 https://twitter.com/daarululuum1911
🌐 https://daarul-uluum.sch.id

Shalat Dhuha Sambil Duduk

0

PERTANYAAN
Assalamu’alaikum. Ustadz…izin bertanya. Dalam satu pesantren ada aturan sholat dhuha sambil duduk ketika di pesantren, tetapi ketika di rmh sholat Dhuha tetap berdiri. Apakah aturan seperti itu diajarkan Rosulullah SAW? (08121234**)

Kok Bisa Diharamkan Babi di Negeri Tanpa Babi?

0

PERTANYAAN
Menyambung pertanyaan di atas tentang haramnya babi dlm Quran adalah Baginda Rasulullah Saw seumur hidupnya tdk pernah melihat babi. Dan memang babi tdk pernah ada di daerah jazirah Arab.

Pertanyaannya gimana orang Arab memahami ayat Qur’an tentangnya haramnya babi ? Apakah ada kata babi dalam kosa kata orang Arab yang tdk pernah melihat babi. (+62838976xxxxx)

Jarak Safar Dibolehkannya Jama’ Shalat

0

PERTANYAAN
Assalamualaikum, Ustdz. Smoga selalu dalam lindungan Allah Swt, saya mau bertanya. Jarak Safar dan (ketentuan) yg diperbolehkan menjama’ shalat tuh berapa, mohon penjelasanya Ustadz. (081224xxxxx)