Mewujudkan Jiwa Kewirausahaan di Kalangan Guru dan Murid Daarul Uluum PUI Majalengka

0
219

Oleh: Dr. (Cd.) Amin Ridwan, M.Pd.
Kesenjangan sektor yang makin menganga dibidang ekonomi sesungguhnya berjalan parallel,dari kebijakan pemerintah   manakah yangpemerintah  harus dipilih , suatu pertumbuhan pembangunan secara penuh dari seluruh sumber potensi manusia Indonesia atau  potensi sumber daya alam  yang dimiliki di kelola mandiri. tampa harus melibatkan infestasi asing, terus menerus karena pada hakekatnya ifestasi asing bisa  membuat  negara menjadi ketergantungan ekonomi  permanen  itulah imprialisme dan kolonialisme gaya baru , akibat lebih lanjut dari kebijakan infestasi asing mengakibatkan masyarakat Indonesia   menjadi konsumen  disegala bidang dan  menjadi  masyarakat mandul tidak berkembang karena berhadapan dengan kapitalis yang memonopoli  yang menghisap sumber-sumber ekonomi lalu  berkembang mengeksploitasi  para konsumen dan para pekerja  . Celakanya dikatakan klaim keberhasilan  .ekonomi  padahal  Yang ada hanyalah keberhasilan kepemilikan surplus ekonomi oleh lapisan kapitalis, bahkan masyarakat Indonesia.lebih menghawatirkan lagi ketika generasi bangsa ini diposisikan sebagai generasi pennikmat saja.

Memperhatikan menyatakan realita yang ada  bahwa sebagian besar lulusan SMK,pesantren,SMA,MA dan Perguruan Tinggi adalah lebih sebagai pencari kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Hal ini disebabkan sistem pembelajaran yang diterapkan di berbagai SMK,pesantren,MA,SMA dan  per-guruan tinggi saat ini, yang umumnya lebih terfokus pada ketepatan lulus dan kecepatan memperoleh pekerjaan, dan memarginalkan kesiapan untuk menciptakan pekerjaan  dan meproduk karya nyata.

”Kekurangtepatan pendidikan bagi siswa dan Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu jangan hanya diajarkan bagaimana bisa bekerja dengan baik, tetapi dipacu untuk bisa menjadi pemilik dari usaha-usaha sesuai latar belakang ilmu mereka,[1]”. Pendidikan harus dijalankan dengan kreatif. Pendi-dikan kewirausahaan harusnya membekali siswa untuk mandiri dan tidak berorientasi menjadi pencari kerja ketika yang bersangkutan menyelesaikan studi-nya. Hal ini menurut Bob Sadino (di Jakarta, 18 Nopember 2008) sebagai dampak dari sistem pendi-dikan Indonesia yang kebanyakan masih mengguna-kan prinsip belajar untuk tahu, bukan untuk melakukan sesuatu.

Lalu apa pentingnya ke wirausahaan?

Kewirausahaan atau enterpreneurship pada mulanya merupakan konsep yang dikembangkan dalam tradisi sosiologi dan psikologi. Pada awal abad ke-18, Richard Cantillon, sarjana kelahiran Irlandia yang besar di Perancis, menyatakan bahwa enterpre-neurship merupakan fungsi dari risk bearing. Satuabad berikutnya, Joseph Schumpeter memperkenal-kan fungsi inovasi sebagai kekuatan hebat dalam enterpreneurship. Sejak itu, konsep enterpreneur-ship merupakan akumulasi dari fungsi keberanianmenganggung risiko dan inovasi (Siswoyo, 2009).

Enterpreneurship adalah suatu proses kreati-vitas dan inovasi yang mempunyai resiko tinggi untuk menghasilkan nilai tambah bagi produk yang berman-faat bagi masyarakat dan mendatangkan kemakmur-an bagi wirausahawan. Kewirausahaan merupakan kemampuan melihat dan menilai peluang bisnis serta kemampuan mengoptimalkan sumberdaya dan mengambil tindakan dan risiko dalam rangka mesuk-seskan bisnisnya. Berdasar definisi ini kewirausahaan itu dapat dipelajari oleh setiap individu yang mempunyai keinginan, dan tidak hanya didominasi individu yang berbakat saja.

Kewirausahaan merupakan pilihan yang tepat bagi individu dan kelompok  yang tertantang untuk menciptakan kerja, bukan mencari kerja.

  1. Menurut William Danko: ”Seorang wirausaha-wan (entreprenuer) mempunyai kesempatan 4 kali lebih besar untuk menjadi milyuner”.
  2. Menurut majalah FORBES: ”75% dari 400 orang terkaya di Amerika berprofesi sebagai enter-prenuer”.
  3. Fakta membuktikan bahwa banyak entre-prenuer sukses yang berawal usaha kecil(Siswoyo, 2006).

Entrepreneur adalah mereka yang beranimewujudkan ide menjadi kenyataan. Menurut Joseph Schumpeter, Entrepeneur is a person who perceives an oppotunity and creates an organization to pur-sue it (Bygrave, 1994:2). Wirausaha adalah orangyang melihat adanya peluang, kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut.

Berdasarkan pengertian tersebut, kepribadian seorang entrepreneur diidentifikasi oleh beberapa peneliti (Siswoyo, 2006) sebagai berikut.

  1. Desire for responsibility yaitu memiliki rasatanggung jawab yang besar terhadap usaha yang baru dirintisnya.
  2. Preference for moderate risk. Entrepreneur lebih memperhitungkan risiko. Entre-preneur melihat peluang bisnis berdasar pengetahuan, latar belakang, dan pe-ngalaman mereka.
  3. Confidence in their ability to succeed. Entre-preneur seringkali memiliki rasa percaya diriyang tinggi. Sebuah studi yang digelar oleh Na-tional Federation of Inde-pendent Business (NFIB) mengemukakan sepertiga entrepreneur merasa memiliki peluang sukses sebesar 100%.
  4. Desire for immediate feedback. Entrepreneur ingin mengetahui bagaimana tanggapan orang lain tentang cara yang mereka sedang jalankan, dan untuk itu mereka senang sekali jika mendapat masukan dari or-ang lain.
  5. Highlevel of energy. Entrepreneur terkesanmemiliki energi yang lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan orang.
  6. Future orientation. Entrepreneur diberkahi kemampuan yang baik dalam melihat sebuah peluang.
  7. Skill at organizing. Entrepreneur mempunyaikemampuan menempatkan orang sesuai bidang dan kemampuannya.
  8. Value of achievement over money. Dalam men-jalankan bisnisnya, yang menjadi kekuatan utama entrepreneur adalah sebuah pencapaian kesuk-sesan, dan uang hanyalah sebuah simbol untuk menandakan sebuah pencapaian (PPM Manaje-men, 2004).

Masa depan bisnis entrepreneur digambarkan akan terus cemerlang. Beberapa tahun lalu terdapat kecenderungan perusahaan raksasa (kasus di Amerika), untuk terus merampingkan perusahaannya. Kenyataan ini juga ikut memicu tumbuhnya entre-preneur baru, entrepreneur yang kaya akan penga-laman bisnis, dan masih berada dalam usia produktif. Fenomena downsizing ternyata juga menyebabkan berubahnya pandangan Generasi X (mereka yang terlahir antara tahun 1965–1980) tentang entrepre-neur. Mereka tidak lagi melihat entrepreneur sebagaijalur karier yang penuh risiko, namun mereka lebih melihatnya seba-gai sebuah cara untuk menciptakan usaha yang aman.

Memperhatikan kondisi di atas, pembekalan dan penanaman jiwa entrepreneur pada siswa diha-rapkan dapat memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan kewirausahaan. Pengalaman yang diperoleh di bangku Sekolah ini diharapkan dapat dilanjutkan setelah lulus, sehingga muncullah wirausahawan baru yang berhasil menciptakan kerja, sekaligus menyerap tenaga kerja. Menurut Hendarwan: ”Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan ini merupakan langkah serius dari pemerintah untuk mengatasi pengangguran terdidik yang terus bertambah jumlahnya”. Ciputra (dalam Direktorat Kelembagaan Dikti, 2009) mene-gaskan ”pendidikan kewirausahaan bisa memberi dampak yang baik bagi masa depan Indonesia, seperti yang terjadi di Singapura. Namun kuncinya, pendi-dikan.

MA Darul Ulum PUI  majalengka merupakan salah satu lembaga pendidikan tingkat SLTA yang berkeinginan kuat  mengembangkan Kewirausahaan .Program Kreativitas siswa dan guru ,menjadi  kian penting untuk segera diwujudkan  karena program VOC (Vocational Edu cation Camp) sudah angkatan ke VII menjadi cikal bakal inovasi program selanjutnya untuk memproduksi kekaryaan   dan Cooperative Edu-cation (Camp) yang diluncurkan pada tahun pelajaran 2018  akan  menghasilkan alumni yang  kompetitif di dunia kerja. Hasil-hasil karya invosi siswa melalui  ECA  menjadi potensial untuk  ditindaklanjuti secara komersial menjadi sebuah embrio bisnis berbasis ekonomi protektif di lingkungan pesantren sekolah dan mencoba mengembangkan diluar pesantren sekolah ( Out the book). Selanjutnya mendidik Guru dan staf  memperoleh pengalaman praktis dalam dunia usaha dengan cara terjun langsung. membangun jaringan kerja dengan pesantren atau madrasah yang ada.

Dalam berwirausaha produk/komoditi yang diperdagangkan adalah inti dari denyut perdagangan itu sendiri. Setiap produk sejenis akan bersaing dalam kualitas yang meliputi unjuk kerja, keandalan (reli-ability) dan kekuatan (robustness) serta kemudahanpengoperasiannya (user friendly). Persaingan tersebut pada hakekatnya adalah persaingan teknologi yang diterapkan dalam kemasan yang menarik serta harga yang lebih murah sebagai hasil analisis penelitian dan pengembangan.

Produk –produk yang dihasilkan MA darul ulum di kembangkan  yakni

1. Madu Tron   bergerak dalam bidang reparasi Elektronik dan prodak elektronik

2. Madu Care dalam Alat pembersih , sabun cuci, sabun Santri dan sejenisnya

3. Madu treveling ASEAN

4. Madu Information pembuatan bahan ajar siswa dan teknologi Informasi

5. Madu Food

Melalui kegiatan Karya Alternatif siswa yang telah mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dilatih dan didorong untuk menghasilkan suatu komoditi yang diperlukan di pesantren madrasah dan  masya-rakat.

Prinsip yang ditekankan dalam hal ini adalah bahwa keterampilan menghasilkan produk harus dipadukan dengan pemahaman bisnis dan pembentukan jaringan inklusif yang dibingkai dengan istilah protektif, artinya diisi dengan aktivitas produktif siswa yang berpola khusus, sebagai bagian integral dari kegiatan intra atau ekstra kurikuler siswa dalam usaha untuk membekalinya dengan keterampilan menghasilkan produk dan pengetahuan tentang bisnis rintisan yang dikelola.

Mencermati program-program sebagaimana diurai di atas,  pimpinan  mem-punyai peran penting dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa. secara operasio-nal terdapat terdapat 3 (tiga) unsur penting yang men-jadi kunci keberhasilan pengembangan jiwa kewira-usahaan di perguruan DU adalah (1) siswa,

  • kurikulum, dan (3) Guru pembina kewirausahaan. Agar sistem budaya kewirausahaan ini dapat di bumikan di perguruan DU, maka perlu dilakukan mapping potensi dan permasalahan di sekitar ketiga unsur tersebut.

Unsur Siswa dimaksud adalah Hasil penelitian mengatakan bahwa ada 3 faktor dominan dalam memotivasi siswa  menjadi wira-usahawan yaitu faktor kesempatan, faktor kebebasan, dan faktor kepuasan hidup (Sutabri, 2008). Ketiga faktor itulah yang membuat mereka menjadi wira-usahawan. Penelitian ini sangat membantu pihak perguruan DU memberikan informasi kepada para siswa dan orang tua , bahwa menjadi wirausahawan akan mendapatkan beberapa kesempatan, kebebasan dan kepuasan hidup.

Proses penyampaian ini harus sering dilakukan sehingga siswa orang tua siswa semakin termotivasi untuk memulai berwirausaha. Sebab banyak siswa merasa takut menghadapi resiko bisnis yang mungkin muncul yang membuat mereka membatalkan rencana bisnis sejak dini.

Unsur kedua yang menjadi kunci keberhasilan pengembangan kewirausahaan adalah kurikulum yang diberlakukan . Kurikulum didesain sedemikian rupa untuk dijadikan acuan dalam penbelajaran siswa.

siswa wajib mengikuti praktek kewirausa-haan secara terstruktur, yang dilakukan secara menyeluruh di setiap jenjang kelas Kendala pembina  Kewirausahaan dapat diatasi dengan membentuk Team kelommppok ECA keterampilan

  1.    Pada tahap awal, separuh dari  siswa diprogramkan untuk  magang Usaha dan  pengabdian. Pada -Magang Usaha ini merupakan perpaduan antara VOC  dan magang kewirausahaan. Untuk itu program dirancang dengan baik, dilakukan pembekalan (Diklat, pengenalan kasus usaha), pendampingan, dan Monev).
  2.    siswa diberi kesempatan membantu Klinik Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja (Job-Placement Center) untuk media belajar bagisiswa.
  3.    Workshop-Role models dapat dilakukan dengan melakukan workshop kewirausahaan dengan terget tersusunnya business plan. Worshop ini didampingi oleh orang yang diidolakan (wira-usahawan sukses dan berpengalaman) guna memberikan wawasan, semangat membuka suatu usaha, memberi dorongan, dan bantuan. Orang yang diidolakan tersebut bisa juga berupa asosiasi berbagai badan asosiasi bisnis, instruktur, dosen atau guru bisnis, biro konsultan bisnis, dan sejenisnya.
  4.    Mengembangkan koperasi siswa model yang dikelola dengan menggunakan pendekatan profesionalisme yang sekaligus berfungsi sebagai tempat pembelajaran kewinausahaan.
  5.    Siswa mengembangkan berbagai kerja-sama dengan pihak eksternal dan alumni yang berhasil dalam bidang kewirausahaan.
  6.      Perguruan DU  mendirikan Inkubator Wira-usaha yang pengelolaannya dilakukan oleh tim yang berfungsi pula sebagai laboratorium/pusat kajian

Guru pembina kewirausahaan menempati peran strategis dalam upaya pembekalan kewirausa-haan pada siswa.Permasalahan yang muncul di sekitar penyajian peraktek kewirausahaan adalah keterbatasan kom-petensi guru pembina. Kewirausahaan membutuh-kan penekanan ranah ketrampilan dan sikap yang lebih dibandingkan dengan ranah pengetahuan. Untuk mewujudkannya, biasanya terkendala oleh keberada-an kompetensi guru yang menguasai praktik kewirausahaan.

Pengembangan jiwa kewirausahaan seorang guru , hakikatnya berlangsung secara alamiah. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu akan bertindak rasional. Tindakan rasional ini diwujudkan dalam bentuk pilihan alternatif yang berujung pada perhitungan untung rugi. Perhitungan untung rugi merupakan tindakan ekonomi yang berorientasi pada penerapan prinsip ekonomi. Jadi, setiap individu pada dasarnya telah mengembangkan jiwa kewirausahaan. Namun, jika ingin memerankan dirinya sebagai pem-bina kewirausahaan, tidak cukup dengan mengandal-kan perilaku alamiah tersebut. Namun seorang guru dan pimpinan sekolah harus membekali dirinya dengan berbagai pengeta-hunan dan ketrampilan bi didang kewirausahaan.

Pengembangan jiwa kewirausahaan guru  dapat dilakukan melalui hal-hal sebagai berikut.Kewirausahaan guru dibangun di atas keilmuan atau disiplin yang diampunya selama ini. Latar keilmuan yang diampu tidak dimarginalkan, bahkan keduanya merupakan satu kesatuan yang saling bersinergi. Diperlukan pemahaman yang sungguh-sungguh agar keduanya dapat saling diintegrasikan. Misalnya, seorang ahli biologi dapat memanfaatkan keilmuannya untuk mencari peluang-peluang bisnis yang dapat memberikan value bidang biologi pada konsumen yangdibidiknya.guru memerlukan penguatan dalam bentuk pendidikan, pelatihan, dan pemagangan yang membekali dirinya untuk lebih memahami ketrampilan berfikir dan bertindak ekonomis, berprinsip dan berperilaku ekonomis. Penguatan semacam ini sepengetahuan penulis belum ada .

Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian di atas adalah sebagai berikut.

  1. Masalah pengangguran menjadi masalah yang sangat serius, dan praktik kewirausahaan sebagai salah satu solusinya.
  2. Ketika Sumber Daya Alam Indonesia Habis harapan Indonesia Tinggal bagaimana sumber Daya Manusia itu masih ada
  3. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin rendah kemandirian dan semangat kewirausahaannya.karena kesempatannya semakin tertinggal
  4. Sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi lebih siap sebagai pencari kerja, daripada sebagai pencipta kerja. Pembinaan kewirausahan sejak  SLTP dan SLTA akan lebih baik menjadi rintisanya
  5. Masa depan wirausahawan digambarkan akan terus cemerlang. Pembekalan dan penanaman jiwa entrepreneur pada siswa diharapkan dapat memotivasi siswa menjadi wirausahawan yang tangguh, ulet dan mandiri.
  6. Kewirausahaan merupakan persoalan penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang mambangun. Kemajuan atau kemuduran ekonomi suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kelompok entre-preneur ini.
  7. Membangkitkan potensi ekonomi pesantren dan sekolah cukup potensial untuk dikelola dengan baik, dengan cara membangun prinsip ekonomi protektif (ekonomi keandirian) dari hulu sampai hilir.
  8.  Pengangguran dan kurangnya kesejahteraan hidup adalah masalah paling rumit yang masih susah ditangani pemerintah Indonesia hingga saat ini. Keterbatasan lapangan kerja dan kurangnya minat berwirausaha merupakan salah satu akar penyebab dari  keterpurukan ekonomi

[1] Dikti direktorat kelembagaan, Ciputra 2009

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here