Oleh: Dr. Wido Supraha, M.Si.

Luqman adalah seorang hamba yang shalih dan seorang ayah yang aktif mendidik anaknya. Ia pernah menjadi budak dari Nubian, Ethiopia (Habasyah/Abesenia) atau budak Bani al-Hassas. Badannya tidak tinggi, berkulit hitam, hidungnya tidak mancung, bibirnya tebal, kakinya lebar dan ia bekerja sebagai seorang tukang kayu. Ia termasuk salah satu dari 3 (tiga) manusia terbaik dari kalangan kulit hitam, yakni Bilal bin Rabah r.a., Mahja’ maula ‘Umar ibn al-Khaththab, dan Luqman al-Hakim.

Dahulu Luqman yang juga pernah menjadi penggembala kambing, bukanlah sosok yang terpandang. Namun di kemudian hari, banyak orang-orang yang menghormati kedudukan beliau. Bahkan disebutkan bahwa Luqman diangkat menjadi Qadhi di kalangan bani Israil di masa Nabi Daud a.s. Orang-orang banyak yang duduk di hamparan tempat tinggal beliau, dan berdesakan menemui beliau, serta mereka selalu ridha dengan ucapannya. Hal ini tidak lain karena dari setiap kata dan perbuatannya, banyak manusia mendapatkan hikmah, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Luqman [31] ayat 12:

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu,  ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.”

Hikmah sebagaimana dibahas oleh Ahmad Musthafa al-Maraghi (1881-1945 M) dalam tafsirnya bermakna ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Begitupun mengutip Abdullah ibn ‘Abbas r.a. yang bermakna pengetahuan dari dalam kitab suci yang mengandung hidayah, hukum dan rahasia-rahasianya, sehingga ia akan dituntun untuk menggunakan akalnya yang sehat untuk selalu berjalan di atas jalan yang benar. Maka hikmah mengandung makna memahami, bukan sekedar mengetahui.

Sumber hikmah adalah Al-Qur’an ataupun kitab-kitab suci sebelumnya. Dengan hikmah tersebut, manusia akan sentiasa dalam jalan petunjuk dan mendapatkan rahmat dari Allah, dikarenakan sentiasa mencintai amal-amal kebaikan. Allah SWT menegaskan hal ini ketika membuka surat Luqman [31] ayat 1-3:

الۤمّۤ ۗ تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْحَكِيْمِۙ هُدًى وَّرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِيْنَۙ

Alif Lam Mim. Inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah. Sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.

Maka dari kitab suci, manusia mengenali apakah hakikat kebaikan dan substansi keimanan. Hal inilah yang menjadikan Islam dan ajarannya memiliki standar kebaikan dan keimanan yang berbeda dengan ajaran agama atau isme-isme lainnya. Setiap agama mungkin dianggap sama-sama mengajarkan kebaikan, padahal kebaikan yang diajarkan setiap agama bukanlah kebaikan dengan standar yang sama. Begitu pula dengan standar keimanan setiap pemeluk agama yang tentunya berbeda satu dengan lainnya. Di dalam Islam, seseorang itu akan tetap berada di jalan petunjuk ketika ia tetap melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, dan meyakini Hari Akhir, sebagaimana firman-Nya dalam surat Luqman [31] ayat 4-5:

الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ بِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

(yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan mereka meyakini adanya Akhirat. Merekalah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Bersambung.

💢 instagram.com/daarululuum1911
🌐 daarul-uluum.sch.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here