Tadabbur Rubu’ ke-02 Al-Qur’an al-Karim

0
59

Oleh: Dr. Wido Supraha, M.Si. (Ketua Badan Penyelenggara Daarul Uluum PUI Majalengka Periode 2020-2024)

Rubu’ ke-2 adalah Al-Qur’an Surat Al-Baqarah [2] ayat 26-43 pada halaman 5-7 dari Mushaf Utsmani. Tema besar Rubu’ ini adalah terkait Kisah Nabi Adam a.s. yang diciptakan di Jannah namun kemudian diperintahkan Allah SWT untuk turun ke muka bumi. Ada pelajaran kegagalan di sana, tapi ada motivasi besar untuk selalu berpegang teguh pada Kitab Suci.

Minimal terdapat 22 pelajaran yang kami pilihkan dari sekian banyak pelajaran pada Rubu’ ke-2 ini.

1. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 26-27

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلا الْفَاسِقِينَ (26) الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (27)

Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripada itu.9) Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwa itu kebenaran dari Tuhannya. Akan tetapi, orang-orang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang disesatkan-Nya.10) Dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Namun, tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu, selain orang-orang fasik,11) (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

9) Makhluk yang kecil yang dikira lemah, seperti nyamuk, semut, lebah, laba-laba, atau lainnya, sebenarnya banyak menyimpan hikmah untuk menjadi pelajaran bagi manusia.
10) Seseorang menjadi sesat karena keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah Swt. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa mereka ingkar dan tidak mau memahami mengapa Allah Swt. menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan. Akibatnya, mereka menjadi sesat.
11) Orang fasik adalah orang yang melanggar ketentuan-ketentuan agama, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

  1. Setelah perumpamaan seperti menyalakan api (ayat 17) dan hujan lebat (ayat 19), di ayat ini kembali Allah SWT membuat perumpamaan. Tujuan dibuatnya perumpamanaan adalah mengajak Muslim berpikir dan mengambil pelajaran darinya. Menangislah sebagaimana ulama Salaf, jika tidak mampu memahami makna di balik perumpamaan yang ada dalam Al-Qur’an
  2. Nyamuk hidup saat lapar, mati saat kenyang. Demikianlah manusia yang menjadi lupa kepada Allah saat semua pintu kesenangan dunia dibukakan untuknya (6:44)
  3. Kalimat ‘فَمَا فَوْقَهَا‘ ditafsirkan lebih kecil sama seperti hadits Nabi: ‘مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَمُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ‘ (Tiada seorang muslim pun yang tertusuk oleh sebuah duri hingga yang lebih darinya melainkan dicatatkan baginya karena musibah tersebut suatu derajat (pahala), dan dihapuskan darinya karena musibah itu suatu dosa.)
  4. Orang-orang fasik adalah orang-orang munafik, orang-orang yang tidak mau ta’at. Di dalam hadits ada 3 (tiga) ciri kemunafikan, yakni: berkata dusta, mengingkari janji dan mengkhianati amanah, namun ayat ini menambahkan 3 (tiga) sifat baru: melanggar perjanjian dengan Allah, memutuskan silaturrahim, dan membuat kerusakan di muka bumi. Umumnya kerusakan ini terjadi saat fase-fase kemenangan. Kata fasiq atau fawasiq atau fuwaisiq juga digunakan untuk menamakan hewan-hewan yang merusak.

2. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 28

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ٢٨

Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan?

  1. Allah SWT menetapkan untuk mematikan manusia 2x dan menghidupkan manusia 2x (Al-Mukmin ayat 11): hidup di alam arwah, bumi, alam barzakh, dan alam Akhirat
  2. Allah SWT tidak disebut Al-Hayyu (Maha Menghidupkan) dan Al-Mumit (Maha Mematikan) karena Dia telah Menghidupkan dan Manusia, namun itu sifat Allah SWT yang telah azali tanpa tergantung dengan makhluk.

3. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 29

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ ٢٩

Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit.12) Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

12) Langit yang bermakna ruang di luar bumi dengan segala isinya (bulan, planet, komet, bintang, galaksi) yang jumlahnya tidak berhingga (disimbolkan dengan ungkapan tujuh langit) sesungguhnya terus berevolusi. Banyak bintang yang mati, namun banyak juga bintang yang lahir. Adapun yang dimaksud dengan menyempurnakan adalah terus berlangsungnya proses pembentukan bintang-bintang baru sejak pembentukan alam semesta.

  1. Dimulai dari hari Ahad (Hari Pertama), Allah SWT menciptakan bumi terlebih dahulu sebelum langit dan kemudian menyempurnakan penciptaan bumi setelah langit. Bumi dan langit diciptakan berlapis-lapis.
  2. Allah memulai penciptaan makhluk-Nya pada hari Ahad, menciptakan berlapis-lapis bumi pada hari Ahad dan hari Senin, menciptakan berbagai makanan dan gunung pada hari Selasa dan Rabu, lalu menciptakan langit pada hari Kamis dan Jumat. Hal itu selesai di akhir hari Jumat yang pada hari itu juga Allah menciptakan Adam dengan tergesa-gesa. Pada saat itulah kelak hari kiamat akan terjadi. (Abdullah ibnu Salam r.a.)

4. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 30-31

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah13) di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!”

13) Dalam Al-Qur’an, kata khalīfah memiliki makna ‘pengganti’, ‘pemimpin’, ‘penguasa’, atau ‘pengelola alam semesta’.

  1. Manusia diciptakan di muka Bumi untuk menjadi khalifah, generasi pengganti yang menjaga bumi tetap lestari dan merawat dari berbagai kerusakan alam dan kezhaliman.
  2. Sebagai khalifah, manusia tidak cukup hanya dengan hafal Al-Qur’an saja, tanpa memahami kandungannya. Manusia wajib belajar ‘ulumuddin (ilmu tentang agama) dan berbagai cabang ilmu sosial dan ilmu alam sesuai dengan prinsip-prinsip di dalam Al-Qur’an. Tentu Nabi Adam a.s. juga diajarkan berbagai cabang ilmu tersebut sehingga layak menjalankan tugas sebagai seorang khalifah.

5. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 32-33

قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ ٣٢
قَالَ يٰٓاٰدَمُ اَنْۢبِئْهُمْ بِاَسْمَاۤىِٕهِمْ ۚ فَلَمَّآ اَنْۢبَاَهُمْ بِاَسْمَاۤىِٕهِمْۙ قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۙ وَاَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ ٣٣

Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”
Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam, beri tahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-nama itu, Dia berfirman, “Bukankah telah Kukatakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang selalu kamu sembunyikan?”

  1. Ilmu adalah dari Allah, dan ilmu diambil melalui pengadaban (pembelajaran) bersama guru (muaddib), maka muliakanlah gurumu agar ilmu Allah sampai kepada jiwa murid yang tawadhu’.
  2. Ilmu adalah tibanya makna sesuatu (obyek) pada jiwa manusia (subyek) dan tibanya jiwa pada makna, apa adanya, tanpa dikurangi atau ditambahkan. Maka jangan ada lagi dikotomi antara agama dan sains.

6. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 34

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ ٣٤

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis.14) Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.

14) Iblis, sebagaimana malaikat, juga menerima perintah dari Allah untuk bersujud kepada Adam. Iblis berasal dari golongan jin.

  1. Kesombongan adalah selendang Allah SWT, jangan sampai manusia memiliki sifat kesombongan. Tugas manusia adalah bersegera ta’at pada setiap perintah Allah SWT, meski belum diketahui hikmah di balik perintah tersebut.
  2. Nikmati dan hayatilah ibadah sujud, karena akan mengobati jiwa dan membangun ketundukan yang sempurna, disamping hikmah dan manfaat besar lainnya seperti kesehatan jasad, dll.

7. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 35-36

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَاۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ٣٥
فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ ٣٦

Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini, 15) sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!” 16)
Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya17) sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.”

15) Setan menipu Nabi Adam a.s. bahwa siapa yang memakan buah pohon itu akan kekal di dalam surga (lihat surah Ṭāhā/20: 120).
16) Yaitu orang yang berbuat aniaya yang mengakibatkan kerugian bagi dirinya sendiri atau orang lain.
17) Nabi Adam a.s. dan Hawa memakan buah pohon yang dilarang itu sehingga diusir Allah Swt. dari surga dan diturunkan ke dunia.

  1. Pelajaran dari kekalahan Nabi Adam a.s. dalam mengelola hawa nafsunya adalah berhati-hati dengan perang pemikiran (ghazw al-fikr), yang pondasinya permainan kata-kata (semantic games).
  2. Muslim telah diberikan kebebasan dalam berpikir dalam panduan wahyu, maka waspadalah dengan perangkap pemikiran dan kata-kata manusia yang membuat dirimu terikat dan tidak lagi bebas.
  3. Jangan pernah berprasangka buruk kepada Allah SWT, karena Allah SWT bersama prasangka hamba-Nya, dan di antara tanda husnul khatimah adalah wafat dalam prasangka baik kepada-Nya.

8. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 37-39

فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ٣٧
قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا ۚ فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ٣٨
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ࣖ ٣٩

Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat18) dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari Surga! Lalu, jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih hati.”
(Sementara itu,) orang-orang yang mengingkari dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

18) Yang dimaksud dengan beberapa kalimat pada ayat ini adalah ucapan untuk memohon ampunan (tobat) dari Allah Swt., seperti disebut dalam surah al-A‘rāf/7: 23.

  1. Manusia adalah tempatnya lupa dan salah, dan sebaik-baik manusia yang lupa dan bersalah adalah yang bersegera bertaubat kepada Allah SWT. Pertaubatan akan menjadikan manusia mulia.
  2. Sejak masa Nabi Adam a.s., pesan pertama yang datang untuk manusia: “Ikutilah Petunjuk Allah (Al-Qur’an), maka hidupmu akan selalu berada dalam kebahagiaan sejati.”

9. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 40-43

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَوْفُوْا بِعَهْدِيْٓ اُوْفِ بِعَهْدِكُمْۚ وَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ ٤٠
وَاٰمِنُوْا بِمَآ اَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُوْنُوْٓا اَوَّلَ كَافِرٍۢ بِهٖ ۖ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۖوَّاِيَّايَ فَاتَّقُوْنِ ٤١
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٤٢
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ٤٣

Wahai Bani Israil,19) ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan penuhilah janjimu kepada-Ku,20) niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu. Hanya kepada-Ku hendaknya kamu takut.
Berimanlah kamu kepada apa (Al-Qur’an) yang telah Aku turunkan sebagai pembenar bagi apa yang ada pada kamu (Taurat) dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga murah dan bertakwalah hanya kepada-Ku.
Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan21) dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui(-nya).
Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.

19) Israil adalah nama lain Nabi Ya‘qub a.s. Oleh karena itu, Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya‘qub a.s. yang sekarang dikenal sebagai bangsa Yahudi.
20) Di antara janji Bani Israil kepada Allah Swt. ialah hanya menyembah-Nya, tidak menyekutukan-Nya, dan beriman kepada Nabi Muhammad saw. sebagaimana yang tersebut di dalam Taurat.
21) Yang dimaksud dengan kebatilan adalah kesalahan, kejahatan, kemungkaran, dan sebagainya.

  1. Al-Qur’an hadir untuk dipahami, diamalkan, dinikmati dan ditegakkan seluruh ayat-ayatnya, maka hidup kita adalah untuk menegakkan satu persatu perintah-Nya tersebut.
  2. Kebenaran itu ada dan bisa diraih, dan datang dari Allah SWT saja. Lawan kebenaran adalah kesesatan dan kebatilan. Maka berbahagialah istiqamah di jalan kebenaran, jangan perturutkan hawa nafsu.
  3. Peliharalah shalat berjama’ah dan segera keluarkanlah zakat jika sudah jatuh haul dan nishab, selain akan meningkatkan kualitas umurmu, dan menjaga keistiqamahanmu, juga akan memberkahi keseluruhan hidupmu.

Demikian 22 pelajaran yang diambil dari Rubu’ ke-02 ini, semoga mampu kita pahami dan menjadi satu referensi dalam melanjutkan amal shalih di kehidupan ini.

Daarul Uluum PUI Majalengka
🌏 https://daarul-uluum.sch.id
💢 https://instagram.com/daaarululuum1911
🔰 https://web.facebook.com/dupuimjl
🎥 https://www.youtube.com/c/PerguruanDaarulUluumMajalengka
📲 https://wa.me/6287726541098

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here