Tadabbur Rubu’ ke-03 Al-Qur’an al-Karim

0
69

Oleh: Dr. Wido Supraha, M.Si. (Ketua Badan Penyelenggara Daarul Uluum PUI Majalengka Periode 2020-2024)

Rubu’ ke-3 adalah Al-Qur’an Surat Al-Baqarah [2] ayat 44-59 pada halaman 7-9 dari Mushaf Utsmani. Tema besar Rubu’ 3 (tiga) sampai Rubu’ 7 (tujuh) sejatinya adalah kegagalan demi kegagalan Bani Israil dalam merawat adab dan iman mereka. Dalam Juz 1 (satu) ini, sebanyak 5 dari total 8 rubu’ membahas tema ini, memberikan hikmah kepada kita, untuk belajar dari kegagalan ummat terdahulu, sehingga tidak mengulanginya kembali di masa hari ini. Ketika seseorang menjaga dirinya dari kegagalan, bukankah ia telah berada di jalan kesuksesan

Minimal terdapat 29 pelajaran yang kami pilihkan dari sekian banyak pelajaran pada Rubu’ ke-3 ini.

1. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 44

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?

  1. Di antara pelajaran inti Al-Qur’an adalah kewajiban mengamalkan 2 (dua) amal unggulan yang saling menguatkan, yakni: amar ma’ruf dan amal ma’ruf.
  2. Meninggalkan kedua amal unggulan tersebut adalah perbuatan yang tercela.
  3. Konsep kebaikan (al-birr) dalam Islam berbeda dengan konsep kebaikan dalam ajaran agama lain, karena itu teguhlah menegakkan standar-standar kehidupan dalam Islam yang unik.

2. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 45-46

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
(yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan hanya kepada-Nya mereka kembali.

  1. Kunci meraih kesuksesan di Akhirat saat melewati berbagai ujian kehidupan di dunia adalah dengan merawat kualitas sabar dan Shalat.
  2. Sabar selain maknanya yang umum, juga dapat berarti ibadah puasa, karenanya Bulan Ramadhan disebut Bulan Kesabaran.
  3. Pondasi khusyu’ adalah keyakinan mendalam bahwa kita akan bertemu Rabb dan dikembalikan kepada-Nya, sehingga melahirkan pribadi yang selalu rendah hati, teguh dalam keta;atan, dan merasa hina karena takut kepada-Nya

3. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 47

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ٤٧

Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu).

  1. Allah SWT berkehndak menjadikan Bani Israil sebagai umat terbaik di masanya.
  2. Keutamaan Bani Israil ditegaskan dengan banyaknya nabi yang diturunkan dari kalangan mereka.
  3. Setiap manusia agar jangan sampai lupa mensyukuri nikmat Allah SWT yang terus menerus dilimpahkan kepadanya di dunia ini

4. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 48

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَّا تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ

Takutlah kamu pada suatu hari (kiamat) yang seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun, syafaat22) dan tebusan apa pun darinya tidak diterima, dan mereka tidak akan ditolong.

22) Syafaat ialah pertolongan yang, antara lain, diberikan oleh malaikat, para nabi, atau orang-orang mukmin pilihan atas izin Allah Swt. untuk meringankan azab seseorang atau bebannya di Akhirat.

  1. Di Akhirat, seseorang tidak memikul dosa orang lain, sebagaimana Q.S. Al-An’am [6] 164
  2. Di Akhirat, seseorang tidak bisa memberikan pertolongan (syafa’at) kepada orang lain kecuali dengan izin-Nya.
  3. Di Akhirat, seseorang tidak bisa menebus dirinya dengan apapun, kecuali apa yang ada pada catatan amal shalihnya di dunia.

5. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 49-50

وَاِذْ نَجَّيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْ ۗ وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ ٤٩
وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ ٥٠

(Ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun.23) Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Pada yang demikian terdapat cobaan yang sangat besar dari Tuhanmu.
(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya).24)

23) Fir‘aun adalah gelar bagi raja-raja Mesir Kuno. Menurut sebagian ahli sejarah, Fir‘aun pada masa Nabi Musa a.s. adalah Menepthan (1232–1224 SM) yang dikenal dengan Ramses II.
24) Allah Swt. memberikan mukjizat kepada Nabi Musa a.s. dengan memberinya jalan untuk dilintasi melalui tersibaknya laut. Belum ada penjelasan ilmiah tentang mekanismenya. Bisa jadi, Nabi Musa a.s. dan kaumnya menyeberang melintasi celah teluk yang sempit tepat saat laut surut maksimum akibat purnama atau bulan baru sehingga memunculkan daratan untuk dilintasi. Sekitar 6 jam kemudian, rombongan Fir‘aun mengejar. Saat di tengah, air laut mulai pasang dan menenggelamkan mereka semua.

  1. Bani Israil telah diselamatkan dari kekejaman Fir’aun, sehingga tidak ada lagi bayi laki-laki yang dibunuh.
  2. Lautan terbelah dengan izin-Nya untuk menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya yang gemar menyiksa manusia terus menerus (yasuumuunakum).
  3. Gelar Fir’aun merupakan isim ‘alam untuk nama julukan bagi seorang raja kafir dari bangsa Amaliq dan lain-lainnya di negeri Mesh. Gelar ini seperti Kaisar untuk penguasa Romawi dan Syam yang kafir; Kisra untuk Raja Persia, Tubba’ untuk Raja Yaman yang kafir, Najasy untuk penguasa Habsyah, dan Batalimus untuk Raja India. Nama Fir’aun yang dimaksud kemungkinan adalah Abu Murrah, Al-Walid ibnu Mus’ab ibnur Rayyan atau Mus’ab ibnur Rayyan, dari Istakhar, Persia, keturunan dari Amliq ibnul Aud ibnu barn ibnu Sam ibnu Nuh.

6. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 51-53

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ
ثُمَّ عَفَوْنَا عَنكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

(Ingatlah) ketika Kami menjanjikan (petunjuk Taurat) kepada Musa (melalui munajat selama) empat puluh malam.25) Kemudian, kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan) setelah (kepergian)-nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zalim.
Setelah itu, Kami memaafkan kamu agar kamu bersyukur.
(Ingatlah) ketika Kami memberikan kitab (Taurat) dan furqān kepada Musa agar kamu memperoleh petunjuk.26)

25) Allah Swt. menjanjikan bahwa waktu munajat Nabi Musa a.s. untuk menerima petunjuk (Taurat) adalah empat puluh malam. Akan tetapi, umatnya tidak sabar menunggunya sehingga mereka menyembah patung anak sapi yang dibuat oleh Samiri.
26) Yang dimaksud adalah kumpulan wahyu yang disebut Taurat dan berfungsi sebagai furqān, yaitu pembeda antara hak dan batil.

  1. Kemusyrikan Bani Israil (menyembah anak lembu) kemudian dimaafkan Allah SWT.
  2. Nabi Musa a.s. meninggalkan kaumnya selama bulan Dzulqa’dah ditambah 10 malam bulan Dzulhijjah, total 40 malam.
  3. Kitab Suci diturunkan Allah sebagai pembeda antara kebenaran dan selain kebenaran (kebatilan atau kesesatan).

7. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 54

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan). Oleh karena itu, bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu.27) Itu lebih baik bagimu dalam pandangan Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

27) Menurut sebagian mufasir, perintah untuk membunuh diri pada ayat ini berarti perintah bagi orang yang tidak menyembah patung anak sapi untuk membunuh orang yang menyembahnya. Namun, perintah itu bisa pula dipahami sebagai perintah kepada orang-orang yang menyembah patung anak sapi itu untuk saling membunuh atau membunuh diri mereka sendiri sebagai bentuk tobat kepada Allah.

  1. Setiap umat memiliki syari’atnya masing-masing sebagaimana bimbingan Nabi yang diturunkan kepada mereka.
  2. Syirik adalah kezhaliman atau dosa yang terbesar, tapi Allah SWT masih membuka taubatnya bagi siapapun yang mau bertaubat.
  3. Jadilah pemaaf, karena Allah Maha Pemaaf.

8. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 55-56

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ ٥٥
ثُمَّ بَعَثْنٰكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٥٦

(Ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum melihat Allah dengan jelas.” Maka, halilintar menyambarmu dan kamu menyaksikan(-nya).
Kemudian, Kami membangkitkan kamu setelah kematianmu agar kamu bersyukur.

  1. Sebanyak 70 orang terpilih dari Bani Israil yang ikut Nabi Musa a.s. ke Bukit Tursina paska peristiwa penyembahan anak lembu, disambar petir atau diperdengarakan suara yang begitu keras dari langit (sha’iqah) dan mati, saat meminta diperlihatkan Allah SWT secara terang-terangan (jahratan, ‘iyanan)
  2. Mereka yang mati kemudian dihidupkan kembali oleh Allah SWT seluruhnya, dan sebagian melihat Sebagian lagi saat dihidupkan kembali
  3. Bani Israil tidak pandai bersyukur setelah seluruh keutamaan yang ada, dan tetap meminta kenikmatan yang lebih banyak lagi: melihat Allah.

9. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 57

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۖ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Kami menaungi kamu dengan awan dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa.28) Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri.

28) Manna ialah sejenis madu, sedangkan salwa ialah sejenis burung puyuh.

  1. Bani Israil ditambahkan nikmat dengan ditutupinya mentari dengan awan putih nan semerbak harum (ghamam, jamak dari ghamamah) dan manna (lebih putih dari salju, lebih manis dari madu) juga salwa (seperti madu, diminum dengan dicampur air).
  2. Bersyukurlah sentiasa dengan banyaknya nikmat Allah dan jangan pernah kufur nikmat.

10. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 58-59

وَاِذْ قُلْنَا ادْخُلُوْا هٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوْا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَّادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَّقُوْلُوْا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطٰيٰكُمْ ۗ وَسَنَزِيْدُ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٨
فَبَدَّلَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِيْ قِيْلَ لَهُمْ فَاَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رِجْزًا مِّنَ السَّمَاۤءِ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ ࣖ

(Ingatlah) ketika Kami berfirman, “Masuklah ke negeri ini (Baitulmaqdis). Lalu, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. Masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk dan katakanlah, ‘Bebaskanlah kami (dari dosa-dosa kami),’ niscaya Kami mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Kami akan menambah (karunia) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Lalu, orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka, Kami menurunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zalim itu karena mereka selalu berbuat fasik.

  1. Kekufuran Bani Israil selanjutnya adalah tidak mau membebaskan Tanah Suci Baitul Maqdis dari Bani Amaliqah
  2. Sujud atau Shalat Dua Raka’at Satu Salam adalah di antara kesamaan ajaran para Rasul.
  3. Nabi Yusya’ bin Nun a.s. pada akhirnya berhasil mengeluarkan Bani Israil dari hukuman tersesat selama 40 tahun, dan Baitul Maqdis dibebaskan di hari Jum’at.

Demikian 29 pelajaran yang diambil dari Rubu’ ke-03 ini, semoga mampu kita pahami dan menjadi satu referensi dalam melanjutkan amal shalih di kehidupan ini.

Daarul Uluum PUI Majalengka
🌏 https://daarul-uluum.sch.id
💢 https://instagram.com/daaarululuum1911
🔰 https://web.facebook.com/dupuimjl
🎥 https://www.youtube.com/c/PerguruanDaarulUluumMajalengka
📲 https://wa.me/6287726541098

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here